Wahai, Suara Manise Suasana khidmat menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai saat warga binaan beragama Kristiani merayakan Paskah melalui ibadah Minggu Paskah di Gereja Ebenhaezer Lapas, Minggu (5/4). Perayaan ini menjadi puncak dari rangkaian ibadah Jumat Agung yang telah dilaksanakan dua hari sebelumnya.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan bahwa pembinaan rohani merupakan bagian integral dari pembinaan kepribadian warga binaan. Menurutnya, pihak lapas terus memberikan ruang bagi setiap warga binaan untuk menjalankan ibadah, terutama pada momen-momen keagamaan penting seperti Paskah.
“Kami memberikan ruang seluas-luasnya untuk ibadah, apalagi di momen suci Paskah ini. Harapannya, melalui ibadah Jumat Agung dan Minggu Paskah, para warga binaan dapat memaknai pengampunan, bertobat, serta memperkuat iman agar menjadi pribadi yang lebih baik setelah bebas nanti,” ujar Tersih.
Suasana haru terlihat saat para warga binaan mengikuti prosesi ibadah dengan penuh penghayatan. Salah satu warga binaan berinisial KL mengungkapkan bahwa perayaan Paskah memberikan makna mendalam baginya.
“Ibadah Paskah ini sangat berarti bagi kami. Di tengah keterbatasan, kami merasakan damai dan harapan baru. Jumat Agung mengingatkan kami akan pengorbanan, dan Minggu Paskah menguatkan kami untuk bangkit kembali,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan warga binaan lainnya, MT, yang merasa mendapatkan kekuatan rohani melalui ibadah tersebut. Ia berharap dapat menjalani masa pembinaan dengan lebih ikhlas dan menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.
Sementara itu, Ketua Persekutuan Pegawai Kristen Oikumene Lapas Wahai, Frans Tepal, yang memimpin ibadah, menekankan makna Paskah sebagai momentum kebangkitan dan harapan baru. Ia juga mengapresiasi keseriusan warga binaan dalam mengikuti seluruh rangkaian ibadah, mulai dari Jumat Agung hingga Minggu Paskah.
“Ini menunjukkan adanya kesadaran rohani yang mendalam untuk kembali ke jalan yang benar,” ujarnya.
Usai ibadah tatap muka, kegiatan dilanjutkan dengan ibadah Paskah secara virtual bersama Yayasan Cahaya Pelayanan Kasih Bethesda yang bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Kegiatan kerohanian yang dilaksanakan secara luring dan daring ini menjadi bagian dari pembinaan kepribadian intensif di Lapas Wahai. Upaya tersebut sekaligus memastikan pemenuhan hak beribadah bagi seluruh warga binaan, guna menciptakan suasana yang aman, tertib, serta penuh kedamaian dan keharmonisan di dalam lapas.










