JAKARTA – Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Triwulan I tahun 2026 tetap terpelihara dengan baik meskipun berlangsung di tengah lingkungan ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Hal ini diungkapkan oleh Bank Indonesia (BI) melalui unggahan resmi di akun Instagram resminya, @bank_indonesia, pada Kamis (28/5/2026).
Berdasarkan data yang dirilis, posisi NPI Indonesia pada kuartal pertama tahun ini tercatat mengalami defisit sebesar 9,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Meskipun mencatatkan defisit, fundamental eksternal ekonomi Indonesia tetap kokoh ditopang oleh tingginya posisi cadangan devisa negara. Per akhir Maret 2026, jumlah cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai angka 148,2 miliar dolar AS.
Jumlah cadangan devisa tersebut dinilai sangat memadai dan jauh melampaui standar keamanan internasional. Secara kemampuan pembiayaan, angka tersebut setara untuk membiayai kebutuhan impor barang dan jasa serta pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 5,8 bulan. Angka ini jauh di atas ambang batas standar kecukupan cadangan devisa yang diakui secara internasional, yaitu setara dengan pembiayaan minimal 3 bulan impor.
Kondisi cadangan devisa yang kuat ini menjadi penyangga utama stabilitas sistem keuangan dan ekonomi nasional di tengah gejolak ekonomi dunia. Bank Indonesia memproyeksikan bahwa kinerja Neraca Pembayaran Indonesia sepanjang tahun 2026 diprediksi akan tetap dalam kondisi yang baik dan terkendali.
Proyeksi positif ini didukung oleh perkiraan defisit transaksi berjalan yang tetap rendah, diprediksi akan berada di kisaran 0,5 persen hingga 1,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka defisit yang rendah ini menunjukkan keseimbangan ekonomi eksternal yang sehat, sekaligus menjadi indikator ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi berbagai risiko eksternal yang mungkin muncul ke depannya.











