AMBON, 14 April 2026 – Perkembangan teknologi di sektor keuangan terus bergerak cepat, dan salah satu inovasi yang menjadi penggerak utama transformasi digital di Maluku adalah penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku terus melakukan sosialisasi massif untuk mengajak masyarakat dan pelaku usaha beralih ke sistem pembayaran non-tunai yang dinilai lebih praktis, efisien, dan sesuai dengan gaya hidup modern.
Dalam pertemuan dengan awak media di Ambon, Senin (14/4/2026), Narasumber Bidang Sistem Pembayaran, Roynald Obed Hehanussa, menegaskan bahwa selain menjaga stabilitas nilai rupiah, Bank Indonesia juga memiliki tanggung jawab besar memastikan sistem pembayaran di daerah berjalan aman, lancar, dan handal.
“QRIS merupakan salah satu inovasi penting dalam mendukung sistem pembayaran digital yang inklusif. Dengan QRIS, transaksi menjadi lebih mudah dan cepat,” ujar Roynald
Salah satu keunggulan utama QRIS adalah kemudahan penggunaannya. Masyarakat cukup melakukan pemindaian (scan) kode QR untuk menyelesaikan pembayaran. Nilai transaksi pun sangat fleksibel, mulai dari nominal kecil sebesar Rp1 hingga Rp10 juta, sehingga sangat cocok digunakan oleh semua kalangan, termasuk pelaku usaha mikro dan kecil.
Tak hanya itu, teknologi pembayaran kini semakin canggih dengan hadirnya fitur QRIS TAP yang memanfaatkan teknologi Near Field Communication (NFC). Melalui fitur ini, pengguna cukup mendekatkan perangkat ponsel ke alat pembayaran tanpa perlu memindai kode secara manual, sehingga proses transaksi menjadi jauh lebih instan
Di balik kemudahan yang ditawarkan, terdapat tantangan yang harus diwaspadai bersama. Roynald menyoroti masih adanya kesenjangan antara tingkat inklusi keuangan (akses) dengan literasi keuangan (pemahaman).
Berdasarkan data survei nasional, tingkat inklusi keuangan telah mencapai 75,02 persen, namun tingkat literasi baru berada di angka 65,43 persen. Rendahnya pemahaman ini dikhawatirkan menjadi celah bagi kejahatan siber.
Diketahui, Indonesia menghadapi lebih dari 560 ribu serangan siber setiap harinya dengan potensi kerugian yang sangat besar. Modus penipuan pun terus berkembang, mulai dari pemasangan kode QRIS palsu, modus contact center fiktif, hingga teknik phishing dan social engineering.
Untuk melindungi masyarakat dari risiko tersebut, Bank Indonesia mengimbau seluruh pengguna jasa keuangan untuk selalu menerapkan prinsip “PEDULI, KENALI, dan ADUKAN”:
1. PEDULI: Memahami produk dan layanan keuangan yang digunakan.
2. KENALI: Mampu mengenali ciri-ciri penipuan dan modus kejahatan siber.
3. ADUKAN: Segera melaporkan jika menemukan atau menjadi korban penipuan ke Penyedia Jasa Keuangan, Bank Indonesia, atau OJK.
Melalui kampanye bertajuk “Mari Katong Pakai QRIS”, Bank Indonesia berharap masyarakat Maluku semakin antusias menggunakan pembayaran digital, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan.











