Wahai,– Suara Manise
Meski suasana libur Lebaran baru saja usai, komitmen pembinaan kepribadian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai tetap berjalan konsisten. Warga Binaan beragama Kristen mengikuti ibadah virtual yang diselenggarakan di Gereja Ebenhaezer Lapas Wahai, Rabu (25/3).
Ibadah yang bertujuan memperkuat iman dan spiritualitas ini dilaksanakan secara daring dengan menghubungkan Warga Binaan Kristiani di sejumlah Lapas dan Rutan di Indonesia melalui pelayanan Yayasan Cahaya Kasih. Para peserta mengikuti rangkaian ibadah dengan khidmat, mulai dari pujian hingga penyampaian firman, yang menjadi sarana refleksi diri dan pembentukan karakter yang lebih baik.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen berkelanjutan dalam pembinaan mental dan spiritual Warga Binaan, sekaligus menjaga suasana Lapas tetap kondusif dan harmonis.
“Kami memastikan hak ibadah seluruh Warga Binaan terpenuhi. Setelah libur Lebaran, kami kembali fokus pada pembinaan kepribadian agar Warga Binaan yang beragama Kristiani semakin disiplin dan mampu memperbaiki diri,” ujarnya.
Ibadah virtual bertema masa prapaskah tersebut dipimpin oleh Pastor Benny. Dalam khotbahnya, ia mengajak Warga Binaan untuk memaknai penderitaan Yesus Kristus sebagai jalan pengampunan dosa serta refleksi untuk memperbaiki diri.
“Kehidupan di Lapas merupakan bagian dari proses yang harus dijalani. Melalui pengakuan dosa dan pertobatan, kita dapat semakin dekat dengan Tuhan dan menjadi pribadi yang lebih baik saat kembali ke masyarakat,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, menekankan pentingnya pembinaan mental dan spiritual yang berjalan selaras dengan nilai toleransi.
“Ibadah virtual ini diharapkan menjadi sarana perbaikan diri agar Warga Binaan siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik. Hal ini tidak hanya dilakukan di Lapas Wahai, tetapi juga di seluruh jajaran Pemasyarakatan Maluku,” ungkapnya.
Lapas Wahai terus berupaya menghadirkan program pembinaan yang holistik, tidak hanya berfokus pada kemandirian, tetapi juga pada pembentukan kepribadian melalui penguatan nilai-nilai moral dan spiritual Warga Binaan.











