Wahai,–Suara Manise
Dinding beton dan jeruji besi tak menjadi penghalang kreativitas Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai. Melalui tangan terampil mereka, potongan kayu dan bahan sisa disulap menjadi kerajinan kapal minimalis yang memadukan ketelitian detail dan sentuhan estetika, Selasa (5/5).
Produk unggulan tersebut bukan sekadar pajangan, melainkan simbol harapan dan proses perubahan diri Warga Binaan melalui program pembinaan kemandirian yang terus digalakkan pihak Lapas.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Lapas Wahai, La Joi, mengaku bangga atas dedikasi dan kreativitas para Warga Binaan. Menurutnya, hasil karya tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan yang tepat mampu melahirkan potensi luar biasa.
“Kami melihat ada bakat yang hebat. Kapal minimalis ini adalah wujud nyata perubahan perilaku dan semangat mereka untuk terus belajar. Kami di Lapas Wahai berkomitmen menyediakan wadah agar para Warga Binaan memiliki bekal keterampilan yang nyata saat kembali ke masyarakat nanti,” ujar La Joi.
Sementara itu, Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty S. Mouw, menjelaskan bahwa proses pembuatan kapal minimalis membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi. Seluruh proses dikerjakan secara manual, mulai dari pemilihan bahan hingga tahap akhir finishing.
“Setiap lekukan dan detail kapal dibuat dengan penuh ketelitian. Kami terus melakukan pendampingan agar hasil karya tetap sederhana, namun memiliki nilai estetika yang elegan dan berkualitas,” jelas Merpaty.
Ia menambahkan, program pembinaan kemandirian tidak hanya bertujuan mengisi waktu Warga Binaan, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah bebas nanti.
Inovasi yang lahir dari Lapas Wahai tersebut turut mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Dwi Ricky Biantoro. Menurutnya, pembinaan berbasis keterampilan merupakan bagian penting dalam proses reintegrasi sosial Warga Binaan.
“Ini adalah langkah maju dalam implementasi fungsi Pemasyarakatan melalui pengembangan kreativitas Warga Binaan. Mudah-mudahan keterampilan ini menjadi bekal saat mereka kembali ke masyarakat. Saya berharap produk seperti ini dapat diperkenalkan lebih luas, bahkan melalui pameran tingkat nasional,” tegas Ricky.
Melalui program pembinaan kemandirian ini, Lapas Wahai terus mendorong Warga Binaan untuk berkarya secara produktif, kreatif, dan mandiri, sehingga mampu membuka lembaran baru kehidupan dengan lebih baik di masa mendatang.











