Ambon – Ekaristi Kamis Putih yang dipimpin Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra, di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon berlangsung khidmat, Kamis (2/4/2026).
Dalam perayaan tersebut, salah satu momen yang paling menyentuh adalah ritual pembasuhan kaki yang dilakukan kepada sejumlah warga binaan. Menariknya, Uskup juga membasuh kaki mantan Bupati Kepulauan Tanimbar, Petrus Fatlolon, sebagai bagian dari rangkaian liturgi Kamis Putih.
Ritual pembasuhan kaki dalam tradisi Gereja Katolik mengacu pada teladan Yesus Kristus saat Perjamuan Terakhir, ketika Ia membasuh kaki para murid-Nya. Tindakan tersebut menjadi simbol kuat kerendahan hati dan pelayanan kasih.
Secara teologis, pembasuhan kaki mencerminkan sikap rendah hati seorang pemimpin yang rela melayani. Yesus, yang dihormati sebagai Guru dan Tuhan, justru mengambil peran sebagai hamba. Nilai ini menjadi ajakan bagi umat untuk tidak membeda-bedakan status sosial maupun jabatan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, ritual ini juga menegaskan pentingnya pelayanan kasih, terutama kepada mereka yang lemah dan tersingkir. Air yang digunakan dalam pembasuhan melambangkan penyucian diri, sekaligus panggilan untuk bertobat dan memperbaharui hidup.
Pembasuhan kaki juga mengandung makna persaudaraan dan kesetaraan. Semua manusia dipandang sama di hadapan Tuhan, tanpa sekat status maupun latar belakang.
Pelaksanaan ritual ini di lingkungan Rutan Kelas IIA Ambon menjadi simbol kuat bahwa kasih, pengampunan, dan harapan tetap terbuka bagi siapa saja, termasuk warga binaan. Ekaristi kamis putih pun berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan menjadi momentum refleksi spiritual bagi seluruh yang hadir.











