Wahai, –Suara Manise
Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an bergema di Masjid Al-Ikhlas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, Selasa (5/5). Sejumlah Warga Binaan mengikuti kegiatan mengaji bersama dengan khusyuk dan penuh semangat sebagai bagian dari program pembinaan kepribadian yang rutin dilaksanakan.
Bagi para Warga Binaan, kegiatan ini bukan sekadar sarana ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk menenangkan diri dan merefleksikan perjalanan hidup. Program mengaji tersebut difokuskan pada pembentukan mental spiritual dan akhlak sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih baik.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Lapas Wahai, La Joi, mengatakan pembinaan kepribadian berbasis religi memiliki peran penting dalam proses Pemasyarakatan. Menurutnya, perubahan perilaku yang mendasar berawal dari ketenangan hati yang dibangun melalui ibadah dan pendekatan spiritual.
“Kami ingin Warga Binaan tidak hanya menjalani masa pidana secara fisik, tetapi juga mengalami transformasi batin. Dengan tekun mengaji, mereka belajar untuk sabar, disiplin, dan melakukan introspeksi diri. Ini menjadi bekal penting saat mereka kembali ke masyarakat,” ujar La Joi.
Sementara itu, Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty S. Mouw, menjelaskan bahwa kegiatan mengaji dilaksanakan secara bertahap, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah hingga tadarus bagi Warga Binaan yang sudah lancar membaca Al-Qur’an.
“Kami memberikan pendampingan agar tidak ada lagi Warga Binaan yang buta aksara Al-Qur’an. Semangat mereka sangat tinggi, bahkan di waktu luang banyak yang memilih mendalami tajwid secara mandiri di masjid. Ini menunjukkan perkembangan positif dalam pembinaan kepribadian,” jelas Merpaty.
Dukungan terhadap program pembinaan spiritual tersebut juga datang dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Dwi Ricky Biantoro. Ia mengapresiasi konsistensi Lapas Wahai dalam menghadirkan kegiatan pembinaan kerohanian bagi Warga Binaan.
“Pembinaan kepribadian melalui bimbingan kerohanian merupakan langkah nyata dalam mewujudkan reintegrasi sosial yang berhasil. Ketika nilai-nilai agama tertanam dengan baik, potensi untuk mengulangi kesalahan dapat diminimalkan. Kami mendukung kegiatan ini agar terus dilaksanakan secara berkelanjutan,” tegas Ricky.
Melalui kegiatan mengaji rutin ini, Lapas Wahai berharap dapat menciptakan suasana yang religius dan kondusif di lingkungan pemasyarakatan, sekaligus menjadi sarana bagi Warga Binaan untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.











