Safitri Malik Soulisa: Dari Ibu Rumah Tangga Menjadi Bupati Perempuan Pertama Buru Selatan  

banner 468x60

(ML) SM Ambon – Nama Safitri Malik Soulisa kini menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di Maluku. Perjalanan hidupnya yang dimulai dari peran seorang ibu rumah tangga hingga akhirnya mencatat sejarah sebagai Bupati Perempuan pertama di Kabupaten Buru Selatan, membuktikan bahwa wanita mampu memimpin tanpa meninggalkan kodratnya dalam keluarga.

Lahir di Ternate pada 15 September 1977, Safitri tumbuh dalam keluarga yang mengedepankan nilai-nilai kedisiplinan dan kemandirian. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, pasangan Drs. Muhammad Malik dan Stien Sarapung Malik. Didikan sang ayah yang pernah menjabat sebagai Camat menanamkan prinsip idealisme, sementara ketegasan ibunya membentuk karakternya agar tidak mudah bergantung pada orang lain.

Jejak Politik dan Pendidikan

Kiprah Safitri di dunia politik tidak terlepas dari dukungan keluarga dan lingkungan. Ia adalah istri dari mantan Bupati Buru Selatan dua periode, Tagop Sudarsono Soulisa. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai empat orang anak, di mana dua di antaranya kini juga mengikuti jejak orang tua di dunia politik, yakni Aris Soulisa dan Muhammad Akmal S. Soulisa.

Pengalaman organisasi sejak masa sekolah, seperti Pramuka dan Paskibraka, menjadi fondasi awal kepemimpinannya. Safitri kemudian terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi Maluku periode 2014–2019. Berbekal pengalaman itu, ia melangkah lebih jauh dengan memenangkan Pilkada dan dilantik sebagai Bupati Buru Selatan pada Juni 2021 untuk periode 2021–2026.

Selain aktif di pemerintahan, Safitri juga terus menuntut ilmu. Ia berhasil menyelesaikan studi pascasarjana Program Studi Administrasi Publik di Universitas Pattimura pada tahun yang sama dengan pelantikannya.

Filosofi Kepemimpinan

Bagi Safitri, jabatan bukanlah sekadar status, melainkan amanah dan pelayanan. Ia memegang teguh prinsip bahwa pekerjaan harus dinikmati, bukan dikeluhkan

“Menjadi pemimpin berarti siap melayani. Kepemimpinan adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat, bukan soal suka atau tidak suka,” ujarnya dalam wawancara.

Safitri juga menjadi pendukung kuat emansipasi wanita. Ia mengajak sesama perempuan untuk saling menguatkan, bukan menjatuhkan. Menurutnya, keberhasilan satu perempuan harus menjadi motivasi bagi yang lain.

“Sesama perempuan jangan saling menjatuhkan atau iri. Kita harus menunjukkan bahwa perempuan mampu dan punya kapasitas,” tegasnya.

Dalam memandang gaya kepemimpinan, Safitri mengaku mengagumi sosok Hendrik Lewerissa. Ia menilai figur tersebut memiliki karakter dan pendekatan yang baik dalam memimpin, yang menjadi salah satu referensinya dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Keluarga adalah Segalanya

Meski memegang jabatan tinggi, Safitri tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Ia menerapkan komunikasi terbuka dan demokrasi di dalam rumah, melibatkan anak-anak dalam pengambilan keputusan agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *