Ambon – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku menargetkan inklusi keuangan di Kota Ambon selaras dengan visi nasional 2045, yakni 98%. Berbagai langkah strategis kini disiapkan untuk mempercepat capaian tersebut.
Kepala OJK Provinsi Maluku, Haramain Billady, mengatakan pihaknya tengah menyusun kurikulum literasi keuangan khusus tingkat SMP dan memperluas jaringan agen Laku Pandai di wilayah yang sulit dijangkau layanan perbankan.
“Kami juga mendorong business matching bagi UMKM dan digitalisasi pada sektor kuliner ikonik seperti Rujak Natsepa agar masuk dalam ekosistem QRIS,” ujar Haramain dalam Rapat Pleno Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kota Ambon Tahun 2026, Selasa (14/04/2026).
Rapat yang berlangsung di aula Kantor OJK Maluku itu digelar untuk mengevaluasi capaian triwulan I sekaligus merumuskan langkah konkret menghadapi semester kedua 2026. Haramain berharap, kerja TPAKD Ambon bisa membawa penghargaan di tingkat nasional.
Dalam forum yang sama, Wali Kota Ambon memaparkan kondisi ekonomi terkini. Inflasi Kota Ambon per Maret 2026 tercatat 3,18% (YoY) dan dinilai sangat terkendali.
“Meski terjadi dinamika harga pada tarif transportasi udara dan listrik, ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat dipastikan tetap stabil, didukung oleh daya beli yang terjaga positif,” jelas Wali Kota.
Haramain menegaskan, strategi TPAKD Ambon tahun ini bertumpu pada tiga hal: penguatan literasi sejak dini, perluasan akses lewat agen Laku Pandai, serta digitalisasi UMKM. Masuknya kuliner legendaris seperti Rujak Natsepa ke QRIS diharapkan jadi pemicu bagi pelaku usaha lain untuk go digital.
“Kalau pedagang di Natsepa sudah pakai QRIS, transaksi tercatat, akses pembiayaan jadi lebih mudah. Ini yang kita dorong,” tambahnya.
Dengan sinergi OJK, Pemkot, perbankan, dan pelaku usaha, TPAKD Ambon optimistis target inklusi keuangan 98% bukan sekadar angka, melainkan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.











