Wahai,–Suara Manise
Dalam rangka menyambut Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 Tahun 2026, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai kembali menunjukkan konsistensi dalam pembinaan kemandirian. Suasana bengkel kerja Lapas tampak produktif, Kamis (26/3), saat para Warga Binaan merangkai miniatur kapal pinisi dengan penuh ketelitian.
Mengusung tema “Pemasyarakatan Kerja Nyata Pelayanan Prima”, kerajinan miniatur kapal pinisi menjadi salah satu produk unggulan Warga Binaan. Karya ini dibuat dari bahan limbah kayu yang diolah menjadi pajangan bernilai seni tinggi, mencerminkan kreativitas sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.
“Semangat HBP 2026 adalah produktivitas. Kami ingin membekali Warga Binaan dengan keterampilan nyata. Proses pembuatan miniatur kapal ini melatih kesabaran, ketelitian, sekaligus menjadi terapi mental,” ujarnya.
Kepala Subseksi Pembinaan, Merpati S. Mouw, menambahkan bahwa karya tersebut telah mendapat apresiasi luas dan kerap dipamerkan di tingkat wilayah hingga nasional.
“Pesanan terus berdatangan. Bahkan, karya mereka telah menjadi pajangan di ruang pejabat daerah maupun penginapan, tidak hanya di Maluku tetapi juga di luar daerah,” jelasnya.
Salah satu Warga Binaan, RP, mengungkapkan kebanggaannya dapat berkontribusi melalui karya.
“Di HBP 2026 ini, kami ingin menunjukkan bahwa kami mampu berkarya dan memberikan manfaat, bukan sekadar menjalani masa pidana,” tuturnya.
Secara terpisah, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, memberikan apresiasi atas keberlanjutan program pembinaan di Lapas Wahai.
Menurutnya, miniatur kapal pinisi bukan sekadar kerajinan, tetapi simbol transformasi diri dan keberhasilan reintegrasi sosial.
“Apa yang dilakukan Lapas Wahai adalah wujud nyata tema HBP tahun ini. Mereka tidak hanya mengolah limbah menjadi karya bernilai, tetapi juga membentuk Warga Binaan menjadi pribadi mandiri yang siap kembali ke masyarakat,” ungkapnya.
Dengan semangat HBP ke-62, Lapas Wahai berkomitmen terus mengembangkan pembinaan kemandirian yang kreatif dan terukur. Upaya ini diharapkan mampu melahirkan Warga Binaan yang produktif, sekaligus menjadikan Lapas sebagai tempat menempa potensi dan menghasilkan karya bernilai.











